Buku Tentang Ahok

Buku MERUBAH INDONESIA karya Ahok bisa didownload disini :
http://www.datafilehost.com/download-b6040156.html


GRATIS ! :)


Profil Ahok



Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. (EYD: Basuki Cahaya Purnama, nama Tionghoa: Zhong Wan Xie) (lahir di Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966; umur 46 tahun), atau paling dikenal dengan panggilan Hakka Ahok, adalah seorang anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 dari Partai Golkar.[1] Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Bupati Belitung Timur periode 2005-2006. Ia merupakan etnis Tionghoa pertama yang menjadi Bupati Kabupaten Belitung Timur.

Pada tahun 2012, ia mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Joko Widodo, wali kota Solo. Basuki juga merupakan kakak kandung dari Basuri Tjahaja Purnama, Bupati Belitung Timur periode 2010-2015.


Masa kecil
Basuki adalah putra pertama dari Alm. Indra Tjahaja Purnama (Zhong Kim Nam) dan Buniarti Ningsing (Bun Nen Caw). Ia memiliki tiga orang adik, yaitu Dr. Basuri T. Purnama (dokter PNS dan Bupati di Kabupaten Belitung Timur), Fifi Lety, S.H., L.L.M. (praktisi hukum), Harry Basuki, M.B.A. (praktisi dan konsultan bidang pariwisata dan perhotelan). Keluarganya adalah keturunan Tionghoa-Indonesia dari suku Hakka (Kejia).

Masa kecil Basuki lebih banyak dihabiskan di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, hingga selesai menamatkan pendidikan sekolah menengah tingkat pertama. Setamat dari sekolah menengah pertama, ia melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Sekalipun demikian, ia selalu berlibur ke kampung halaman.
 
Pendidikan dan dunia bisnis
Basuki melanjutkan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi di Jakarta dengan memilih Fakultas Teknologi Mineral jurusan Teknik Geologi Universitas Trisakti. Setelah menamatkan pendidikannya dan mendapat gelar Insinyur Geologi pada tahun 1989, Basuki pulang kampung dan menetap di Belitung serta mendirikan perusahaan CV Panda yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan PT Timah.

Dua tahun kemudian, Basuki memutuskan kuliah S-2 dan mengambil bidang manajemen keuangan di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya Jakarta. Gelar Magister Manajemen (M.M.) diraihnya, dan kemudian ia bekerja di PT Simaxindo Primadaya di Jakarta. Perusahaan ini bergerak di bidang kontraktor pembangunan pembangkit listrik. Ia menjabat sebagai staf direksi bidang analisa biaya dan keuangan proyek.

Pada 1992 Basuki mendirikan PT Nurindra Ekapersada sebagai persiapan membangun pabrik Gravel Pack Sand (GPS) pada tahun 1995. Pada tahun 1995, Basuki memutuskan berhenti bekerja di PT Simaxindo Primadaya. Ia kemudian mendirikan pabrik di Dusun Burung Mandi, Desa Mengkubang, Kecamatan Manggar, Belitung Timur. Pabrik pengolahan pasir kuarsa tersebut adalah yang pertama dibangun di Pulau Belitung, dan memanfaatkan teknologi Amerika dan Jerman. Lokasi pembangunan pabrik ini adalah cikal bakal tumbuhnya kawasan industri dan pelabuhan samudra, dengan nama Kawasan Industri Air Kelik (KIAK).

Pada akhir tahun 2004, seorang investor Korea berhasil diyakinkan untuk membangun Tin Smelter (peleburan bijih timah) di KIAK. Investor asing tersebut tertarik dengan konsep yang disepakati untuk menyediakan fasilitas komplek pabrik maupun pergudangan lengkap dengan pelabuhan bertaraf internasional di KIAK.

Karier, sosial, dan politik
Pada tahun 2004 Basuki terjun ke dunia politik dan bergabung di bawah bendera Partai Perhimpunan Indonesia Baru (Partai PIB) sebagai ketua DPC Partai PIB Kabupaten Belitung Timur. Pada pemilu 2004 ia mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009. Partai PIB adalah partai politik yang didirikan oleh Alm. Sjahrir.

Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Belitung Timur Tahun 2005, Basuki berpasangan dengan Khairul Effendi, B.Sc. dari Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK) ikut sebagai calon Bupati-Wakil Bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Dengan mengantongi suara 37,13 persen pasangan ini terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Belitung Timur definitif pertama. Pasangan Basuki-Khairul ini unggul di Kabupaten Belitung Timur yang menjadi lumbung suara Partai Bulan Bintang (PBB) pada pemilu legislatif tahun 2004 lalu. Basuki kemudian mengajukan pengunduran dirinya pada 11 Desember 2006 untuk maju dalam Pilgub Bangka Belitung 2007. Pada 22 Desember 2006, ia resmi menyerahkan jabatannya kepada wakilnya, Khairul Effendi.

Di pilkada Gubernur Babel tahun 2007, Basuki mengambil bagian menjadi kandidat calon Gubernur. Mantan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendukung Basuki untuk menjadi Gubernur Bangka Belitung dan ikut berkampanye untuknya. Gus Dur menyatakan bahwa "Ahok sudah melaksanakan program terbaik ketika memimpin Kabupaten Belitung Timur dengan membebaskan biaya kesehatan kepada seluruh warganya". Namun dalam pemilihan tersebut ia dikalahkan oleh Eko Maulana Ali.

Pada 2008, ia menulis buku biografi berjudul "Merubah Indonesia".

Pada tahun 2012, Basuki mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Joko Widodo.

Penghargaan

Basuki memperoleh penghargaan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari unsur penyelenggara negara dari Gerakan Tiga Pilar Kemitraan, yang terdiri dari Masyarakat Transparansi Indonesia, KADIN dan Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara, pada tanggal 1 Februari 2007. Ia dinilai berhasil menekan semangat korupsi pejabat pemerintah daerah, antara lain dengan tindakannya mengalihkan tunjangan bagi pejabat pemerintah untuk kepentingan rakyat, yaitu untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis bagi masyarakat Belitung Timur.
Ia juga terpilih menjadi salah seorang dari 10 tokoh yang mengubah Indonesia, yang dipilih oleh Tempo.

Keluarga

Basuki menikah dengan Veronica, S.T. yang kelahiran Medan, Sumatera Utara, dan dikaruniai 3 orang putra-putri bernama Nicholas, Nathania, dan Daud Albeenner.


Sumber : Wikipedia

Mereka Bilang Saya China



KICK ANDY-Ketika dilahirkan, manusia tidak memilih untuk menjadi seseorang dengan etnis tertentu. Stigma pada warga etnis Tiong Hoa di negeri ini masih berlangsung meski tak sekuat di era Orba. Dalam buku “Mereka Bilang Saya China” diceritakan tentang para perempuan yang berjuang melawan diskriminasi atas etnisnya. Ada yang berprestasi di dunia internasional, tetapi kewarganegaraannya masih sulit ia dapatkan. Demikian pula dengan beberapa tamu Kick Andy kali ini. Pribadi-pribadi yang memiliki andil besar tetapi perjuangannya melalui jalan terjal untuk diakui sebagai bagian dari bangsa ini.

Filosofinya adalah “orang miskin jangan lawan orang kaya, dan orang kaya jangan lawan pejabat”. Berbekal pelajaran dari almarhum ayahandanya itulah, Basuki Tjahaya Purnama atau yang dikenal Ahok adalah sosok manusia dermawan yang tak segan menyuarakan kenyataan pilu dari lembaganya, Dewan Perwakilan Rakyat, kepada masyarakat umum.

Berawal di tahun 2001, setelah ditutupnya pabrik pengolahan pasir miliknya karena dianggap tidak sejalan dengan kebijakan penguasa setempat, Ahok alih profesi dan terjun ke dunia politik. Tujuh bulan menjadi anggota DPRD II, Ahok langsung menjabat sebagai Bupati di Belitung Timur dengan menang telak. Semasa menjabat bupati, Ahok menjadikan warung kopi sebagai media untuk mendengarkan secara langsung keluh kesah warganya. Oleh karena itulah seluruh warganya mengenal baik setiap digit nomor telepon miliknya.

Meski gagal ikut dalam pemilihan sebagai gubernur di Bangka Belitung, karena di duga adanya manipulasi suara, anak sulung dari 3 bersaudara ini kini berjuang melalui jabatannya sebagai anggota DPR dalam Komisi II. Tak hanya itu, untuk menjembatani komunikasi dengan rakyatnya, Ahok pun selalu meng-up date web site pribadinya. Tak jarang apa yang dilakukannya itu membuka aib wakil rakyat lainnya.

Salah satu tokoh aktivis yang sangat gigih memperjuangkan hak asasi manusia adalah Ester Indahyani Jusuf. Ia tipikal manusia yang anti diskriminasi suku agama ras dan golongan. Sebagai keturunan tionghoa, Ester alias Sim Ai Ling - masih melihat banyak kasus diskriminatif terhadap etnis tionghoa di tengah masyarakat. Kita tak akan pernah lupa, kerusuhan Mei 1998. Tragedi yang menelan ratusan korban, tak hanya etnis tionghoa tetapi juga masyarakat yang tidak bersalah lainnya. Sejak tahun 98 itu, Ester terus memperjuangkan kasus-kasus pelanggaran HAM dan diskriminasi. Atas perjuangannya itulah, pada tahun 2001 Ester meraih penghargaan YAP THIEM HIEN. Sebagai sosok yang berani menentang diskriminasi sosial.

Sekarang Ester bersama suaminya, tergabung dalam Solidaritas Nusa Bangsa (SNB). Organisasi yang bekerjasama memperjuangkan kasus-kasus penegakkan HAM dan anti diskriminasi. Ester yang juga seorang pengacara ini, aktif melakukan penelitian hingga ke berbagai daerah. Saat ini ia sedang menulis buku mengenai implementasi Undang-Undang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Sebelum bergabung dengan SNB, selama 3 tahun Ester banyak memberikan advokasi dan bantuan hukum melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Jakarta. Ketertarikannya pada bidang hukum sejak lulus sekolah menengah atas lebih sebagai upaya untuk membela kaum lemah yang tidak bersalah.

Perjalanan hidup membawa Khoe Liong Hauw alias Sumartono Hadinoto, pria kelahiran Solo yang akrab disapa Martono ini, menjadi sosok yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Bahkan sejak sepuluh tahun lalu usaha material arsitektur yang dirintisnya sejak tahun 1986 telah di serahkannya kepada sang istri, Meliana Kusyanto. Dan Martono pun fokus hanya pada kegiatan berorganisasinya.

Kesibukannya berorganisasi membuat ia sekarang ini tergabung dalam 15 organisasi sosial kemasyarakatan, diantaranya Persatuan Masyarakat Surakarta (PMS), Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI), dan juga Palang Merah Indonesia (PMI). Bagi Martono, tidak masalah warga etnis manapun yang berorganisasi. Tetapi kemampuan, niat baik, dan komitmen di sebuah organisasi adalah yang paling dibutuhkan. Salah satu prestasi yang ditorehkannya bersama timnya di Palang Merah Indonesia adalah, kini Solo tidak lagi mengalami kekurangan stok darah, dan bahkan berhasil menambah armada ambulance gratis untuk menolong orang sakit.